Thursday, December 20, 2012

NASEHAT ABUL 'ATAHIYAH (JANGAN TERPEDAYA DENGAN GEMERLAP DUNIA !!!)



رَغِيْفُ خُبْزٍ يَابِسٍ = تَأْكُلُهُ فِي زَاوِيَةْ
Sepotong roti kering yang engkau makan di pojokan….

وَكُوْزُ ماءٍ باردٍ = تَشْرَبُهُ مِنْ صَافِيَةْ
Dan secangkir air dingin yang kau minum dari mata air yang jernih….

وَغُرْفَةٌ ضَيِّقَةٌ = نَفْسُكَ فِيْهَا خَالِيَةْ
Dan kamar sempit yang jiwamu merasa kosong di dalamnya…

أَوْ مَسْجِدٌ بِمَعْزِلٍ = عَنِ الْوَرَى فِي نَاحِيَةْ
Atau mesjid yang terasing dan jauh dari manusia, lalu engkau berada di sudut mesjid tersebut…

تَقْرَأُ فِيْهِ مُصْحَفاً = مُسْتَنِداً لِسَارِيَةْ
Engkau membaca Al-Qur'an sambil bersandaran di sebuah tiang mesjid…

مُعْتَبِراً بِمَنْ مَضَى = مِنَ الْقُرُوْنِ الْخَالِيَةْ
Seraya mengambil ibroh/pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu yang telah tiada…

خَيْرٌ مِنَ السَّاعَاتِ فِي = فَيْءِ الْقُصُوْرِ الْعَالِيَةْ
Itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam istana-istana yang megah…

تَعْقُبُهَا عُقُوْبَةٌ = تَصْلَى بِنَارٍ حَامِيَةْ
Yang akhirnya mengakibatkan dosa yang menyebabkan engkau masuk dalam api yang panas…

فَهَذِهِ وَصِيَتِي = مُخْبِرَةٌُ بِحَالِيَةْ
Ini adalah washiatku yang mengabarkan tentang dirinya…

طُوْبَى لِمَنْ يَسْمَعُهَا = تِلْكَ لَعُمْرِي كَافِيَةْ
Sungguh beruntung orang yang mendengarnya…demi Allah washiat ini sudahlah cukup (memberi pelajaran…)

فَاسْمَعْ لِنُصْحِ مُشْفِقٍ = يُدْعَى أَبَا الْعَتَاهِيَةْ
Maka dengarlah nasehat orang yang sayang dan khawatir kepadamu yang dikenal dengan Abul 'Ataahiyah..

Sungguh indah sya'ir Abul 'Ataahiyah di atas, terutama bagi yang mengerti bahasa arab.
Sedikit waktu yang disempatkan untuk membaca Al-Qur'an di pojokan mesjid jauh dari pandangan manusia…ternyata jauh lebih bernilai dari kemegahan istana yang hanya sementara.

Muroqobatullah Tingkat Tinggi


Al-Ihsaan menurut sebagian ulama adalah kondisi seseorang yang dituntut tatkala melaksanakan perkara-perkara Islam dan perkara-perkara Iman. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwasanya al-Ihsan merupakan tingkat tertinggi dalam agama, kedudukannya diraih setelah kedudukan Islam dan Iman, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril yang masyhuur.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang al-Ihsaan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, maka jika engkau tidak bisa melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu" (HR Al-Bukhari no 50 dan Muslim no 8)

Orang yang telah mencapai derajat Ihsan adalah orang yang senantiasa murooqobah (merasa di awasi dan dilihat oleh Allah) dalam segala gerak-geriknya, terutama tatkala sedang beribadah. Terutama tatkala sedang beribadah kepada Allah.


Rahasia al-Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam agama

Terlalu sering kita mengeluh akan sulitnya meraih keikhlasan dan sulitnya menolak riyaa', serta sulitnya meraih kehusyu'an. Diantara perkara yang sangat membantu seseorang untuk meraih keikhlasan dan menolak riyaa' adalah dengan mempraktekan al-ihsaan, yaitu merasa diawasi/dilihat oleh Allah tatkala sedang beribadah.

Seseorang tatkala sedang sholat dan dia sadar bahwa ia sedang dishooting dan akan disiarkan secara langsung di stasiun-stasiun televisi di seluruh nusantara maka akan timbul riyaa' dalam hatinya, dan ia akan berusaha untuk bisa sholat dengan sebaik-baiknya karena tentu para penonton akan memberikan penilaian mereka tentang sholatnya, dan ia yakin akan hal itu.

Hal inilah yang disinyalir oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya :

الشِّرْكٌ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلَ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ رَجُلٍ

"Syirik yang samar yaitu seseorang berdiri dan mengerjakan sholat lalu ia menghias-hiasi (membagus-baguskan) sholatnya karena ia tahu ada orang lain yang melihatnya" (HR Ibnu Maajah no 4194 dan dihasankan oleh Al-Albani)

Demikian pula seseorang tatkala beribadah merasa diawasi dan dilihat serta dinilai oleh Allah maka ia akan berusaha untuk beribadah dengan sebaik-baiknya di hadapan Allah.

Allah berfirman kepada NabiNya :

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.  Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui" (QS Asy-Syu'aroo : 17-20)

Tatkala sedang sholat ia sadar bahwa berdirinya, ruku'nya, dan sujudnya sedang diawasi oleh Allah, maka tatkala itu ia akan lupa dengan pandangan dan penilaian manusia dan tidak mempedulikan penilaian mereka. Karenanya diantara definisi ikhlash yang disebutkan oleh para ulama adalah :

نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظْرِ إِلَى الْخَالِقِ

"Melupakan pengamatan manusia dengan selalu memandang kepada Pencipta"

Demikian juga tatkala ia merasa dilihat oleh Allah maka sholatnya akan menjadi lebih khusyuk karena hatinya terfokus dan konsentrasi kepada Allah.

Subhaanalaah….keikhlasan…, kekhusyu'an…, dan menolak riyaa'…semuanya bisa diraih dengan mempraktekan al-ihsaan dalam ibadah kita. Maka jelaslah kenapa al-ihsaan merupakan derajat yang tertinggi dalam agama.

Murooqobatullah (tingkat tinggi) terhadap gerak gerik hati

Seorang yang mencapai derajat al-ihsaan ia bukan saja hanya merasa di awasi oleh Allah dalam gerak-gerik tubuhnya…bukan hanya merasa diawasi dalam setiap kata yang diucapkannya…bukan hanya merasa diawasi dalam setiap pandangan dan lirikan matanya…bahkan lebih dari itu semua ia juga merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-gerik hati dan niatnya.

Dia meyakini firman Allah :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (١٩)

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati" (QS Al-Mukmin : 19)

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (٧٤)

"Dan Sesungguhnya Robb-mu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan"
(QS An-Naml : 74)

وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (٦٩)

"Dan Robb-mu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan"
(QS Al-Qosos : 69)

إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٣٨)

"Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati"
(QS Faathir : 38)

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٤)

"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. dan Allah Maha mengetahui segala isi hati"
(QS At-Tagoobun : 4)

Karenanya sungguh menakjubkan cara pendalilan Imam An-Nawawi yang dalam kitabnya Riyaadlus Shoolihin dalam bab "al-ikhlaash" beliau membawakan firman Allah

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (٢٩)

"Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui" (QS Ali 'Imroon : 29)

Karena barang siapa yang yakin bahwasanya Allah mengetahui gerak-gerik hatinya maka ia akan malu untuk berbuat riyaa'…karena ia tahu Allah sedang mengawasi hatinya.

Contoh yang sangat menakjubkan tentang merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-gerik hati adalah kisah tentang tiga orang dari umat terdahulu yang terjebak dalam sebuah goa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((Tiga orang (dari orang-orang terdahulu sebelum kalian) keluar berjalan lalu turunlah hujan menimpa mereka. Merekapun masuk ke dalam goa di sebuah gunung. Lalu jatuhlah sebuah batu (dari gunung hingga menutupi mulut goa), lalu sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan yang terbaik yang pernah kalian amalkan!” (lihatlah amalan-amalan kalian yang telah kalian lakukan ikhlaslah karena Allah maka berdoalah dengan amalan-amalan sholeh tersebut semoga Allah membuka batu besar tersebut dari kalian). Maka salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtuaku yang telah tua (dan aku memiliki anak-anak kecil), (pada sauatu waktu) aku keluar untuk menggembala lalu aku kembali, lalu aku memerah susu lalu aku datang membawa susu kepada mereka berdua lalu mereka berdua minum kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku, dan istriku. Pada suatu malam aku tertahan (terlambat) dan ternyata mereka berdua telah tertidur (maka akupun berdiri di dekat kepala mereka berdua aku tidak ingin membangunkan mereka berdua dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku), maka aku tidak ingin membangunkan mereka berdua padahal anak-anaku berteriak-teriak di kedua kakiku (dan aku tetap diam di tempat dan gelas berada di tanganku, aku menunggu mereka berdua bagnun dari tidur mereka) dan demikian keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakan bagi mereka sedikit celah akan tetapi mereka bertiga belum bisa untuk keluar.

Berkatalah orang yang kedua : "Yaa Allah aku memiliki seorang sepupu wanita (putri pamanku) yang sangat aku cintai, maka aku menghendaki dirinya akan tetapi ia menolak diriku. Hingga suatu ketika ia menghadapi kesulitan lalu iapun mendatangiku maka akupun memberinya 120 dinar dengan syarat agar ia membiarkan diriku untuk bersetubuh dengannya, ia pun setuju. Maka tatkala aku telah duduk diantara dua kakinya iapun berkata, "Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau membuka keperawanan kecuali dengan haknya". Maka akupun berpaling meninggalkannya padahal ia sangat aku cintai, dan aku tinggalkan emas yang telah aku berikan kepadanya. Yaa Allah jika memang aku melakukan hal itu karena ikhlas mengharapkan wajahmu  maka hilangkanlah kesulitan yang sedang kami hadapi". Maka terbukalah celah batu tersebut hanya saja mereka belum bisa keluar.

وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ، فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ، فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ، فَقالَ: يَا عبدَ اللهِ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي، فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ: مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ، فقالَ: يَا عبدَ اللهِ، لا تَسْتَهْزِئْ بي! فَقُلْتُ: لا أسْتَهْزِئ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئًا. الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ»

Berkata orang yang ketiga : "Yaa Allah aku telah mempekerjakan para pekerja dan aku telah memberikan gaji mereka seluruhnya kecuali satu orang yang telah pergi dan meninggalkan gajinya. Maka akupun mengembangkan gajinya tadi sehingga membuahkan banyak harta. Lalu setelah itu iapun datang kepadaku dan berkata, "Wahai Abdullah, barikanlah kepadaku gajiku". Maka aku berkata, "Seluruh yang engkau lihat bagian dari gajimu, onta, sapi, kambing, dan budak-budak". Iapun berkata, "Wahai Abdullah, janganlah engkau mengejekku !". Aku berkata, "Aku tidak sedang mengejekmu". Maka iapun mengambil seluruhnya lalu menggiringnya dan tidak meninggalkan sedikitpun. Yaa Allah jika memang aku melakukan hal ini karena mengharapkan wajahmu maka bebaskanlah kesulitan yang sedang kami hadapi. Maka terbukalah batu (yang menutup pintu goa) lalu keluarlah mereka bertiga" (HR Al-Bukhari no 2272 dan Muslim no 2743)

Ketiga orang ini benar-benar memiliki sifat murooqobah yang tinggi, karena tidaklah lelaki yang pertama kuat menunggu semalam suntuk sambil memegang gelas yang berisi susu menunggu terjaganya kedua orangtuanya dari tidurnya –sementara anak-anaknya menangis minta untuk minum susu- kecuali karena ia yakin Allah sedang melihatnya.

Demikian pula lelaki yang kedua, tidaklah mungkin ia mampu meninggalkan sang wanita yang sangat dia cintai –padahal jika ia berzina tidak ada orang lain yang melihat mereka berdua- kecuali karena keyakinannya bahwa Allah sedang melihatnya.

Akan tetapi yang lebih menakjubkan adalah sikap orang ketiga yang memiliki sifat amanah yang luar biasa. Dimana ia merasa niatnya diawasi oleh Allah. Bayangkan selama ia mengembangkan gaji sang pekerja niatnya adalah untuk menguntungkan sang pekerja. Tidak ada yang mengetahui niatnya kecuali Allah. Bahkan niatnya tetap ia jaga dan tidak berubah meskipun setelah gaji tersebut telah berkembang dan menjadi sangat banyak. Jika seandainya ia hanya memberi kepada sang pekerja gajinya saja maka ia tidak bersalah, karena memang yang berhak dimiliki oleh sang pekerja hanyalah gaji pokoknya saja. Akan tetapi ia yakin Allah mengetahui gerak-gerik hatinya…mengetahui niatnya tatkala mengembangkan gaji tersebut. Sungguh ini merupakan murooqobatullah tingkat tinggi !!!

Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya amalan yang paling bermanfaat di antara ketiga orang tersebut untuk menyelamatkan mereka bertiga adalah amalan orang yang ketiga yang sangat amanah, karena dengan doanyalah maka pintu goa akhirnya terbuka. (Lihat Fathul Baari 6/511)

Imam Ahmad mempraktekan murooqobatullah tingkat tinggi

Sholeh (putra Imam Ahmad) berkata, "Ayahku telah bertekad untuk (*bersafar dari Baghdad) ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji Islam, dan iapun ditemani oleh Yahya bin Ma'iin. Ayahku (Imam Ahmad) berkata, "Kita berjalan menunju tanah suci lalu kita tunaikan haji kita, setelah itu kita bersafar menuju Abdurrozzaq di kota Son'aa (*di negeri Yaman), kita meriwayatkan hadits dari beliau".

Yahya bin Ma'in telah mengenal Abdurrozzaq karena ia pernah mendengar/meriwayatkan hadits dari Abdurrozzaq. Yahya bin Ma'in berkata, "Kamipun tiba di Mekah, lalu kami melaksanakan thowaf qudum, tiba-tiba ternyata Abdurrozzaq juga sedang thowaf. Setelah thowaf Abdurrozzaq lalu sholat dua raka'at di belakang maqoom Ibrahim lalu beliau duduk. Kamipun menyelesaikan towaf kami lantas kami mendatangi Abdurrozzaq As-Shon'aaniy dan beliau sedang duduk di dekat maqoom Ibrahmi. Maka aku (Yahya bin Ma'in) berkata kepada Imam Ahmad,

هَذَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَدْ أَرَاحَكَ اللهُ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ذَاهِبًا وَجَائِيًا وَالنَّفَقَةَ

"Ini dia Abdurrozzak, sungguh Allah telah mengistirahatkamu sehingga tidak perlu engkau bersafar pulang pergi menempuh perjalanan selama sebulan dan penyediaan bekal perjalanan"

Imam Ahmad berkata,

مَا كَانَ اللهُ يَرَانِي وَقَدْ نَوَيْتُ نِيَّةً أُفْسِدُهَا وَلاَ أُتِمُّهَا

"Tidak boleh Allah melihatku telah berniat lantas aku merusak/membatalkan niatku dan tidak aku sempurnakan niatku"

(Tobaqoot Al-Hanaabilah 1/175 dan  Al-Maqshid Al-Arsyad fi dzikri Ashaab Al-Imaam Ahmad 1/445).

Allahu Akbar…sungguh luar biasa praktek murooqobah yang dilakukan Imam Ahmad. Benar-benar ia yakin bahwa Allah mengetahui isi hatinya. Beliau memilih untuk tetap menempuh perjalanan jauh dari Mekah menuju Son'aa di Yaman demi untuk menunaikan niatnya !!!

Wednesday, December 19, 2012

Tahun Baru Masehi : Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam

 
Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2012 akan segera berganti, dan tahun 2013 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi satu pekan yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
 

Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

 
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
 
Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun. (sa/berbagaisumber)

Mengajak Kaum Nasrani Ke Surga Di Bulan Desember


 

Salah satu karakter da’wah Islam ialah Rahmatan Lil’aalamiin (Rahmat bagi semesta alam). Da’wah Islam merupakan ajakan kepada segenap umat manusia, bukan untuk kalangan atau kelompok tertentu saja. Ia bukan seruan yang ditujukan hanya untuk bangsa Arab. Ia merupakan penyebarluasan rahmat Allah ta’aala bagi manusia. Manusia manapun yang menyambut Da’wah Islam akan memperoleh ketenteraman. Suatu ketenteraman dalam arti sesungguhnya.
Kehadiran aktifitas Da’wah Islam menyebabkan umat manusia memiliki harapan. Sebab dengan hadirnya Da’wah Islam manusia menjadi berpeluang untuk hidup di bawah tuntunan wahyu ilahi. Ia menjadi terarah menuju jalan keselamatan di dunia maupun akhirat. Tanpa Da’wah Islam manusia akan berjalan dalam kegelapan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dan agar kita benar-benar menjadi bagian yang turut menyebarluaskan rahmat bagi semesta alam, maka tidak bisa tidak jalan yang mesti ditempuh adalah jalan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Sebab beliau-lah teladan utama dalam berperan sebagai rahmatan lil’aalamiin.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya ayat 107)


 
Berdasarkan keteladanan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam aktifitas Da’wah Islam memiliki spektrum yang sangat luas. Da’wah Islam membentang dari sekedar tersenyum hingga mengangkat senjata (al-Jihad fii sabilillah). Semua kegiatan yang ada di antara kedua kutub spektrum tadi merupakan aktifitas Da’wah Islam yang merefleksikan Islam sebagai rahmatan lil’aalamiin. Artinya, setiap gerak-gerik seorang Muslim seyogyanya merupakan ekspresi semangat mengajak manusia ke jalan keselamatan dunia dan akhirat. Seorang Muslim belum sempurna penghayatan akan Islam sebagai rahmatan lil’aalamiin bilamana ia mengembangkan toleransi kepada orang non-Islam alias kafir namun ia tidak pernah sesaatpun berfikir dan berupaya mengajaknya ke jalan Islam. Disinilah relevansi ucapan da’wah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang begitu ringkas, jelas, tegas sekaligus penuh cinta kasih:
أَسْلِمْ تَسْلَمْ
”Aslim Taslam (= masuk Islamlah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan akhirat’).” (HR Ibnu Majah 1/95)
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa bersegera mengajak manusia ke dalam agama Allah ta’aala. Beliau tidak pernah ragu sedikitpun ketika melakukan Da’wah Islam. Sebab beliau sangat yakin hanya dengan ni’mat Iman dan Islam sajalah seseorang bakal meraih keselamatan hakiki di dunia maupun di akhirat. Bahkan inilah yang menjadi obsesi utama beliau dalam hidup di dunia fana ini.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ
”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.” (QS AtTaubah ayat 128)

 
Saudaraku, andai setiap Muslim apalagi aktivis Da’wah benar-benar mengikuti jejak langkah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, niscaya kita tidak akan menyaksikan kelemahan mental dan inferiority melanda kaum muslimin. Dan jika kaum muslimin telah secara aktif, tegas sambil penuh kearifan dan kasih-sayang mengajak kaum kafir dewasa ini untuk mengenal serta memeluk Islam, niscaya laju gerakan pemurtadan kaum kafir tidak akan segencar seperti yang kita lihat sekarang.
Wahai ummat Islam, sudah tiba masanya bagi kita ummat Islam untuk meluruskan makna Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamiin. Ia bukan bermakna sikap toleran sedemikian rupa sehingga menyebabkan seorang Muslim tidak kunjung mengajak orang-orang di luar Islam memeluk ajaran Allah ta’aala. Ia bukan bermakna sedemikian rupa menghargai agama lain sehingga orang-orang di luar Islam semakin yakin bahwa agama merekalah yang benar dan agama Islam yang salah.
Makna Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamiin ialah menjadikan setiap diri kita kaum muslimin bersemangat menyelamatkan manusia dari kelaliman dan kesesatan berbagai agama-agama menuju keadilan dan kelurusan agama Islam. Makna Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamiin ialah menjadikan setiap diri kita kaum muslimin bersemangat menyelamatkan manusia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Rabb Tunggal manusia, yaitu Allah ta’aala.
Makna Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamiin ialah menjadikan setiap diri kita kaum muslimin bersemangat menyelamatkan manusia, khususnya kaum Nasrani, dari meyakini bahwa Isa ’alaihis-salam (Yesus, kata mereka) merupakan Tuhan atau anak Tuhan kepada keyakinan bahwa ia adalah seorang Nabi Allah yang diutus untuk mengajak manusia menghamba hanya kepada Allah ta’aala, tuhan Nabi Isa ’alaihis-salam dan tuhan kita bersama.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah ta’aala Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang bisa menyerupaiNya.” (QS Al-Ikhlash ayat 1-4)

Alangkah zalimnya seorang Muslim yang sejak kecil sudah hafal ayat-ayat di atas, lalu saat tibanya bulan Desember setiap tahun ia malah mengucapkan ”Selamat Natal” kepada kaum Nasrani. Kita semua tahu bahwa makna kata ”Natal” sama dengan ”Maulid” (hari kelahiran). Sedangkan kelahiran yang mereka rayakan ialah kelahiran Yesus sebagai Tuhan atau sebagai anak Tuhan, menurut mereka. Maka bila pada hari tersebut kita justru mengucapkan ”selamat” bukankah ini suatu kebohongan yang nyata? Lalu apa yang semestinya kita ucapkan?

Saudaraku, inilah saatnya kita buktikan di hadapan Allah ta’aala bahwa kita meyakini hanya Allah ta’aala-lah Tuhan Yang Maha Esa. Dan bahwa hanya Islam-lah jalan keselamatan. Inilah saatnya kita menyebarluaskan rahmat bagi semesta alam. Untuk itu tidak bisa tidak jalan yang mesti ditempuh adalah jalan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Sebab beliau-lah teladan utama dalam berperan sebagai rahmatan lil’aalamiin. Marilah kita coba menjalankan sunnah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan menyampaikan kepada kaum Nasrani di bulan Desember tahun ini kalimat yang jelas, ringkas lagi penuh kasih sayang:
أَسْلِمْ تَسْلَمْ
”Aslim Taslam (= masuk Islamlah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan akhirat’).” (HR Ibnu Majah 1/95)

Ingatlah saudaraku, seorang Muslim tidak dibenarkan ingin masuk surga sendirian tanpa peduli dengan orang-orang lainnya. Satu-satunya tiket atau undangan untuk masuk surga ialah syahadatain atau dua kalimat syahadat. Maka marilah kita coba membagi ni’mat Iman dan Islam ini kepada orang-orang yang selama ini tidak pernah merasakan manisnya Iman dan Islam seperti yang selama ini kita rasakan.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS Taha ayat 25-28)

Fitnah Dajjal


Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الْأَعْوَرَ الْكَذّابَ. أَلآ إِنَّهُ أَعْوَرٌ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرٍ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: ك ف ر (كافِرٌ)
“Tidak ada seorangpun nabi kecuali sungguh dia telah memperingatkan umatnya akan datangnya sang a’war lagi sangat pendusta. Ketahuilah, sesungguhnya dia ini a’war dan sesungguhnya Rabb kalian tidaklah a’war, dia ini tertulis di antara kedua matanya huruf kaf, fa, dan ra (kafir).” (HR. Muslim no. 2933)

A’war adalah rusak salah satu matanya.
Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيامِ السّاعَةِ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجّالِ
“Tidak ada satu kejadianpun yang terjadi sejak dari penciptaan Adam sampai hari kiamat yang lebih besar daripada kejadian (fitnah) Dajjal.” (HR. Muslim no. 2946)

Dari Hudzaidah bin Al-Yaman radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
اَلدَّجّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جَفالُ الشَّعْرِ. مَعَهُ جَنَّةٌ وَنارٌ، فَنارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
“Dajjal itu rusak mata kirinya dan sangat lebat rambutnya. Dia membawa surga dan neraka bersamanya, akan tetapi neraka yang dia bawa sebenarnya adalah surga dan surga yang dia bawa sebenarnya adalah neraka.” (HR. Muslim no. 2934)

Penjelasan ringkas:
Di antara tanda-tanda besar hari kiamat yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah akan keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal. Allah Ta’ala akan mengeluarkannya di akhir zaman guna menguji dan memfitnah manusia. Untuk itu Allah Ta’ala memberikan kepada Dajjal kemampuan untuk melakukan hal-hal di luar kewajaran, sampai-sampai Allah Ta’ala menjadikannya mampu membawa surga dan nerakanya sendiri. Semua ini guna menguji manusia, apakah mereka tetap mengimani dan meyakini sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mengabarkan kekafiran Dajjal walaupun mereka melihat hal-hal yang menakjubkan di depan mata mereka, ataukah mereka akan mengikuti Dajjal dan beriman kepadanya karena melihat semua hal tersebut. Karenanya hanya orang-orang beriman yang sanggup bertahan dalam fitnah Dajjal ini karena hanya merekalah yang mampu melihat tulisan kafir yang tertulis di antara kedua mata Dajjal.

Di antara sifat-sifat Dajjal yang tersebut dalam hadits-hadits di atas dan selainnya adalah:
1.    Rusak matanya, dimana dalam hadits Hudzaifah di atas diterangkan bahwa yang rusak adalah mata kirinya.
Hanya di sini ada sedikit masalah, yaitu dalam hadits Ibnu Umar riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa yang rusak itu adalah mata kanannya. Dari sini para ulama berbeda pendapat mengenai mata mana yang rusak, kanan ataukah kiri?
Yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qadhi Iyadh rahimahullah bahwa kedua mata Dajjal itu rusak, salah satunya hilang dan yang lainnya rusak. Pendapat ini dianggap baik oleh An-Nawawi dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Imam Al-Qurthubi.
2.    Tertulis di antara kedua matanya kata كافِرٌ (kafir). Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa tulisan ini hanya dibaca oleh muslim.
3.    Rambutnya lebat. Disebutkan dalam riwayat Muslim:
إِنَّهُ شَابٌ قَطَطٌ
“Dajjal adalah pemuda yang rambutnya pendek dan keriting.”
4.    Adapun tempat keluarnya, maka disebutkan dalam hadits Fathimah bintu Qais bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَلآ إِنَّهُ مِنْ بَحْرِ الشَّامِ أَوْ مِنْ بَحْرِ الْيَمَنِ. لاَ بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ, مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ – وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ -
“Ketahuilah, dia akan keluar dari laut Syam atau laut Yaman. Bahkan dia akan keluar dari arah timur, dia akan keluar dari arah timur.” Beliau menunjukkan tangannya ke arah timur.” (HR. Muslim)

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq secara marfu’:
الدَّجالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ يُقالُ لَهَا خُرَسانُ
“Dajjal akan keluar dari sebuah daerah di timur yang bernama Khurasan.” (HR. At-Tirmizi dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

5.    Dalam hadits Fathimah bintu Qais riwayat Muslim disebutkan secara marfu’:
فَأُخْرِجَ فَأُسِيْرَ فِي الْأَرْضِ. فَلاَ يَدَعُ قَرْيَةً إِلاَ هَبَطَهَا فِي أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيِّبَةَ
“Lalu Dajjal dikeluarkan dan dijadikan dia berkeliling di bumi ini. Sehingga tidaklah dia membiarkan satu daerahpun kecuali dia akan turun padanya kecuali Makkah dan Thayibah (Madinah). Dia berkeliling di bumi ini selama 40 malam.” (HR. Muslim)

Amalan di 10 Hari Terakhir Ramadhan


Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)

Dalam lafazh yang lain:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim no. 2009)

Ada dua penafsiran di kalangan ulama mengenai makna ‘mengencangkan sarung’:
a.    Ini adalah kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya.
b.    Ini adalah kiasan dari menjauhi berhubungan dengan wanita. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan yang dirajihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahumallah.
Makna ‘menghidupkan malam’ adalah mengisinya dengan ibadah dibandingkan tidur yang merupakan saudara dari kematian.

Makna ‘membangunkan keluarga’ adalah mendorong dan memerintah keluarga untuk mengisi malam-malam itu dengan ibadah.

Pada dasarnya, membangunkan keluarga untuk shalat malam adalah hal yang disunnahkan. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Allah merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya. Dan Allah merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1113, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1326)

Akan tetapi hal ini lebih disunnahkan lagi di 10 terakhir ramadhan. Karena shalat lail mengandung banyak keutamaan sehingga tidak pantas bagi seorang muslim atau keluarganya untuk luput darinya. 10 hari terakhir juga adalah penutup bulan ramadhan, sementara setiap amalan itu tergantung dengan penutupnya. Sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)

Kemudian, ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari ini tidak terbatas pada shalat lail saja, akan tetapi mencakup semua jenis ibadah seperti membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdoa, bersedekah, dan selainnya.

Di antara keistimewaan 10 hari ini adalah di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan atau yang dikenal dengan malam al-qadr. Pada malam ini Al-Qur`an diturunkan, pada malam ini ditetapkan takdir untuk setahun berikutnya, dan pada malam ini terdapat banyak pengampunan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, 
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 3-5)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 1268)

Karena semua keutamaan inilah, sebagian ulama berpendapat bahwa 10 terakhir ramadhan itu lebih utama dibandingkan 10 hari pertama dzulhijjah. Wallahu a’lam.

Buku Meraih Kemuliaan Melalui Jihad…, Bukan Kenistaan

Silahkan mendownload file-file dibawah ini :
  1. Buku Meraih Kemuliaan Melalui Jihad…, Bukan Kenistaan
    Jenis File : PDF
    Size : 20.7 MB
    [Download]
  2. Audio Tabligh Akbar : Islam Membawa Kedamaian bukan Teror
    Lokasi : Masjid PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisiaan) Jakarta.
    Waktu : Ahad, 16 Agustus 2009
    Jenis File : Audio MP3
    - Sambutan Bapak Mentri Kehutanan Ms. Ka’ban [Download]
    - Materi Islam Membawa Kedamaian bukan Teror [Download]
    - Tanya Jawab [Download]
  3. Audio Daurah : Ada Apa dengan SALAFY ? (Menyoal antara Wahabiyah dengan Teroris)
    Lokasi : Masjid Universitas Masjid Makassar Gunung Sari.
    Waktu : Sabtu, 10 Oktober 2009
    Jenis File : Audio MP3
    - Sesi 1 [Download]
    - Sesi 2 [Download]
    - Tanya Jawab [Download]
  4. Audio Daurah : Jihad dan Terorisme Lokasi : Masjid Jajar Solo.
    Waktu : Sabtu, 25 Oktober 2009
    Jenis File : Audio MP3
    - Sesi 1 [Download]
    - Sesi 2 [Download]
    - Tanya Jawab [Download]
  5. Audio Daurah : Bahayanya Ideologi Terorisme Berkedok Jihad Lokasi : Masjid Fathullah, Kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat
    Waktu : Jum’at, 30 Oktober 2009
    Jenis File : Audio MP3
    - Sesi 1 [Download]
    - Tanya Jawab [Download]

 Sumber :